Kebiasaan berkirim pesan lewat SMS mendapat cap buruk karena dapat merusak kemampuan bahasa dan membuat orang menjadi sembrono saat mengemudi. Tapi, seorang profesor psikologi telah menemukan sisi positifnya. SMS ternyata dapat meringankan depresi, terutama untuk orang yang merasa stres, terisolasi dan sendirian.

Adrian Aguilera, psikolog klinis yang merawat banyak orang berpenghasilan rendah yang mengalami depresi dan gangguan mental mengatakan bahwa pasiennya mengaku merasa lebih diperhatikan dan tersentuh saat menerima pesan SMS yang menanyakan suasana hatinya, menggambarkan interaksi yang positif, dan menanyakan apakah pasien sudah meminum obat yang diresepkan.

“Ketika berada dalam situasi sulit dan menerima pesan SMS, pasien merasa jauh lebih baik, merasa diperhatikan dan didukung. Suasana hatinya juga ikut meningkat,” kata Aguilera.

Penelitian yang dimuat jurnal Professional Psychology: Research and Practice ini dimulai pada tahun 2010 ketika Aguilera mengembangkan program SMS yang disesuaikan untuk program intervensi pasien dengan bantuan Ricardo Munoz, psikolog dari University of California San Fransisco.

Pasien Aguilera dikirimi pesan SMS otomatis yang mendorong untuk berpikir dan menjawab kondisi suasana hatinya serta tanggapannya mengenai interaksi sehari-hari yang positif dan negatif.

“Kami memanfaatkan teknologi yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan kesehatan mental masyarakat berpenghasilan rendah dan kurang terlayani,” kata Aguilera.

Aguilera mendapatkan ide mengenai SMS ini ketika menyadari bahwa banyak pasiennya mengalami kesulitan dalam menerapkan keterampilan yang dipelajari saat terapi untuk kehidupan sehari-hari. Bisa jadi hal itu disebabkan oleh banyaknya stres yang dihadapi setiap hari. Pasiennya ini tidak mampu membeli laptop, tablet elektronik atau ponsel pintar, tetapi kebanyakan punya telepon selular biasa dan dapat membayar pulsa bulanan.

“Orang yang saya rawat tidak memiliki akses komputer dan Internet secara langsung. Jadi saya menggunakan ponsel untuk mengirim pesan SMS yang mengingatkan pasien agar melatih keterampilan yang diberikan saat terapi,” kata Aguilera.

Umpan balik dari pasien menawarkan wawasan baru mengenai kebutuhan untuk melakukan kontak biasa atau pemeriksaan oleh profesional kesehatan mental, bahkan hanya lewat teknologi komputer yang serba otomatis.

Sesi pesan SMS dirancang untuk berlangsung hanya selama beberapa minggu, namun sekitar 75% pasien meminta agar tetap dikirimi pesan SMS terus. Ketika program sempat macet selama seminggu karena masalah teknis, beberapa pasien benar-benar terlihat mengalami perbedaan. Beberapa pasien merasa kehilangan dan merindukan SMS.