1. Check Sheet
Check sheet adalah suatu formulir untuk mencatat data kualitas yang telah dikumpulkan. Tujuannya adalah untuk mentabulasikan banyaknya kejadian dari suatu masalah/penyebab tertentu, mengumpulkan data tentang jenis masalah yang sedang terjadi dan menyusun data secara otomatis sehingga mudah digunakan.Check Sheet juga alat yang mutlak diperlukan bagi mereka yang melaksanakan penelitian dan pengendalian kualitas atau kuantitas barang ataupun jasa. Karena dari data yang didapat /dikumpulkan dapat mengambil suatu gambaran, kesimpulan ataupun keputusan yang akurat. Tanpa mempunyai data membuat pengambilan kesimpulan/keputusan ataupun rencana tindakan hanya berdasarkan kira-kira saja, sehingga bukan suatu yang mustahil akhirnya kesimpulan/keputusan akan jauh dari yang diharapkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat Check Sheet, antara lain :
• Sasarannya harus jelas
• Keterangan yang diperlukan memenuhi sasaran
• Dapat diisi dengan mudah dan cepat
• Dapat disimpulkan dengan cepat

Secara umum Check Sheet dibagi dalam 3 jenis dengan fungsinya masing-masing :
a. Check Sheet
Suatu lembaran yang berisi bahan-bahan keterangan yang telah ditentukan sasaran/keperluannya dengan kolom jumlah/ukuran barang atau kegiatan yang diperiksa dengan penentuan waktu yang teratur ataupun bebas.
Fungsi Check Sheet :
o untuk menghitung jumlah produksi/jasa yang dihasilkan
o untuk menghitung kerusakan/kesalahan produk yang dibuat
o untuk mengukur bentuk (panjang/volume hasil produksi)
o untuk mengukur keadaan/kondisi alat/hasil produksi
o untuk mengukur waktu proses pekerjaan
b. Check List
Suatu lembaran yang berisi bahan-bahan keterangan yang telah ditentukan sasaran/keperluannya, kegiatan yang dicocokkan keberadaanya/jumlahnya dengan penentuan waktu yang tertentu
Fungsi Check List
o untuk mencocokkan ukuran hasil produksi dengan standar
o untuk mencocokkan jumlah pengiriman dengan pesanan
o untuk mencocokkan barang dengan jumlah yang dibawa/dikirim
o untuk mengontrol jenis barang yang dibeli
c. Check drawing
Suatu lembaran yang berisi gambar barang yang telah ditentukan untuk diperiksa keadaannya dan setiap barang menggunakan lembar yang berbeda.
Fungsi Drawing :
o untuk menunjukkan posisi/lokasi kerusakan
o untuk mencocokkan posisi pemasangan bagian barang produksi
o untuk pengontrolan lokasi masalah yang akan/telah diselesaikan
Dalam penyusunan Check Sheet perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:
• Bentuk lajur-lajur untuk mencatat data harus jelas.
• Data yang hendak dikumpulkan dan dicatat harus jelas tujuannya.
• Kapan data dikumpulkan harus dicantumkan.
• Data harus dikumpulkan secara jujur.
• Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pemakaian Check Sheet adalah (Vincent Gaspersz, 2001):
• Memudahkan proses pengumpulan data terutama untuk mengetahui bagaimana sesuatu masalah sering terjadi. Tujuan utama dari penggunaan Check Sheet adalah membantu mentabulasikan banyaknya kejadian dari suatu masalah tertentu dan penyebab tertentu.
• Mengumpulkan data tentang jenis masalah yang sedang terjadi. Dalam kaitan ini, Check Sheet (Lembar Periksa) akan membantu memilah-milah data kedalam kategori yang berbeda seperti penyebab-penyebab, masalah-masalah dan lainnya.
• Menyusun data secara otomatis sehingga data itu dapat dipergunakan dengan mudah.
• Memisahkan antara opini dan fakta. Kita sering berfikir bahwa kita mengetahui suatu masalah atau menganggap suatu penyebab itu merupakan hal yang paling penting. Dalam hal ini Check Sheet akan membuktikan opini kita apakah benar atau tidak.
Ada enam langkah untuk membuat Check Sheet ialah:
1. Menjelaskan tentang tujuan pengumpulan data.
2. Identifikasi apakah Variable atau Attribute variasi yang akan diukur.
3. Menentukan waktu dan tempat pengukuran.
4. Mulai mengumpulkan data untuk item yang sedang diukur.
5. Menjumlahkan data yang telah dikumpulkan tersebut. Dalam hal ini kita harus menjumlahkan banyaknya kejadian untuk setiap kategori yang akan diukur.
6. Memutuskan untuk mengambil tindakan peningkatan atas penyebab masalah yang sedang terjadi itu. Perlu diingat untuk setiap tindakan peningkatan harus diambil berdasarkan fakta dan bukan hanya berdasarkan opini. Bila ada hal-hal yang masih meragukan berkaitan dengan fakta yang ditemukan dalam pengumpulan data kita perlu melakukan verifikasi data yang telah terkumpul tersebut.

2. Cause-effect diagram
Cause & effect diagram, diajukan pertama kali oleh Kaoru Ishikawa pada sekitar tahun 60-an. Ishikawa merupakan orang yang merintis quality management di Kawasaki, dan ia adalah salah satu tokoh di manajemen modern. Diagram cause & effect bertujuan untuk menganalisa seluruh potensi sebab atau input, yang dapat menghasilkan dampak tertentu atau output.
Diagram ini dapat menjadi perangkat untuk menelusuri penyebab terjadinya variasi dalam proses. Sebab (cause) diatur sesuai dengan tingkat kepentingannya, sehingga dapat memperlihatkan hubungan dan hierarki dari berbagai event. Sehingga, dengan demikian Anda dapat mengetahui dimana sumber masalah yang paling signifikan, untuk kemudian dilakukan peningkatan.

Sebab(cause) dalam diagram cause & effect biasanya terdiri dari 4 macam,yang disebut juga `4M` diantaranya: `Materials`, `Machines`, `Manpower` dan `Methods`. Ini biasanya untuk bisnis manufaktur. Sementara untuk bisnis administrasi dan jasa maka sebabnya adalah: `equipment`, `policy`, `prosedur` dan `people`.
C&E diagram, selain disebut sebagai Ishikawa diagram juga lebih popular dengan nama fishbone diagram, karena bentuknya yang menyerupai tulang ikan. Jadi, masalah utama yang mendasar dituliskan di bagian kanan, atau kepala ikan. Kemudian, dari tulang ikan tersebut gambarkan cabang-cabang yang berpotensi menjadi sumber permasalahan. Biasanya ini ditentukan berdasarkan hasil brainstorming tim, yang memberikan saran-saran mengenai permasalahan.

Selanjutnya dari beberapa masalah utama tersebut, dapat dipecah lagi menjadi sub-masalah yang lebih spesifik lagi. Kedalaman dari fishbone ini bisa mencapai empat hingga lima level. Setelah fishbone ini selesai disusun, kemudian kita dapat melihat permasalahan dengan lebih menyeluruh, sehingga dapat dianalisa apa yang sebenarnya menjadi sumber permasalahan utama. Selanjutnya, dari sini baru kemudian diambil tindakan yang sesuai untuk meningkatkan kinerja proses.
Diagram Sebab Akibat (Fishbone Diagram) Disebut juga “ Grafik Tulang Ikan”, yaitu diagram yang menunjukkan sebab akibat yang berguna untuk mencari atau menganalisa sebab-sebab timbulnya masalah sehingga memudahkan cara mengatasinya.
Penggunaan Analisis Sebab Akibat :
– Untuk mengenal penyebab yang penting
– Untuk memahami semua akibat dan penyebab
– Untuk membandingkan prosedur kerja
– Untuk menemukan pemecahan yang tepat
– Untuk memecahkan hal apa yang harus diilakukan
– Untuk mengembangakan proses

Langkah-langkah membuat diagram Sebab Akibat
Langkah 1: Gambarlah sebuah garis horizontal dengan suatu tanda panah pada ujung sebelah kanan dan suatu kotak didepannya. Akibat atau masalah yang ingin Dianalisis ditempatkan dalam kotak
Langkah 2: Tulislah penyebab utama (manusia, bahan, mesin dan metoda) dalam kotak yang ditempatkan sejajar dan agak jauh dari garis panah utama. Hubungan kotak tersebut dengan garis panah yang miring ke arah garis panah utama. Kadang-kadang mungkin, atau mungkin diperlukan untuk menambahkan lebih dari empat macam penyebab utama.
Langkah 3: Tulislah penyebab kecil pada diagram tersebut di sekitar penyebab utama, yang penyebab kecil tersebut mempunyai pengaruh terhadap penyebab utama. Hubungkan penyebab kecil tersebut dengan sebuah garis panah dari penyebab utama yang bersangkutan
3. Diagram Pareto
Diagram Pareto (Pareto charts) adalah sebuah metode untuk mengelola kesalahan, masalah, atau cacat untuk membantu memusatkan perhatian pada usaha penyelesaian masalah.
Diagram Pareto adalah kombinasi dua macam bentuk grafik yaitu grafik kolom dan grafik garis, berguna untuk :
• menunjukkan masalah utama/pokok masalah
• menyatakan perbandingan masing-masing masalah terhadap keseluruhan
• menunjukkan perbadingan masalah sebelum dan sesudah perbaikan

Langkah-langkah pembuatan Diagram Pareto
Langkah 1: Tentukan bagaimana data harus diklasifikasikan menurut pelaksanaan pekerjaan.
Langkah 2: Tentukan periode waktu yang diperlukan untuk mempelajari dan buat lembar isian (check sheet) yang mencakup periode waktu dari semua klasifikasi data yang mungkin, kemudian kumpulkan datanya.
Langkah 3: Untuk tiap kelompok hitunglah data untuk seluruh periode waktu dan catatlah jumlah totalnya
Langkah 4: Gambarlah sumbu horizontal dan vertical pada secarik kertas grafik. Bagilah sumbu horizontal ke dalam bagian yang sama, satu bagian untuk tiap kelompok. Skala sumbu vertical dibuat sedemikian rupa sehingga titik puncak sumbu vertical tersebut menggambarkan suatu jumlah yang sama dengan jumlah total dari semua kelompok.
Langkah 5: Gambar data ke dalam bentuk kolom. Mulailah dari sisi sebelah kiri dari grafik tersebut dengan kelompok yang semakin kecil. Bilamana ada kelompok yang disebut “lain-lain“ gambarkanlah kelompok itu pada bagian yang paling akhir setelah kelompok yang paling kecil
Langkah 6: Gambarlah garis komulatif. Mulailah dengan menggambar garis diagonal memotong kolom yang pertama, dengan dimulai dari dasar pada sudut kiri (titik nol). Dari bagian atas sudut kanan pada kolom pertama, lanjutkan garis ini ke arah yang baru dengan menggerakkannya kearah kanan yang jaraknya sama dengan tinggi kolom kedua, dari titik tersebut tariklah garis lurus untuk ruas berikutnya , teruskan ke arah kanan dengan jarak yang sama dengan lebar kolom dan menuju ke atas dengan jarak yang sama dengan tingginya kolom ketiga. Ulangi terus sampai ujung sudut kanan paling atas dari grafik tercapai. Tingginya garis komulatif pada titik ini menggambarkan jumlah data yang telah dikumpulkan
Langkah 7: Buat sumbu vertical yang lain di sebelah kanan grafik, dan buat skala dari 0 – 100 %. Akhir dari garis komulatif adalah pada titik yang betuliskan 100%.
Langkah 8: Tambahkan keterangan pada diagram pareto tersebut. Jelaskan siapa yang telah mengumpulkan data tersebut , kapan dan dimana, serta tambahan informasi apa saja yang penting untuk mengidentifikasi data. Tuliskan tanggal pembuatan diagram pareto tersebut, nama anggota gugus yang bertanggung jawab atas persiapan diagram tersebut.
4. Histogram
Histogram adalah bentuk dari grafik kolom yang memperlihatkan distribusi yang diperoleh bila mana dat dalam bentuk angka telah terkumpul. Meskipun suatu histogram dibuat berdasarkan contoh data, namun tujuannya adalah untuk memberikan saran mengenai kemungkinan distribusi keseluruhan data (populasi) yang contoh datanya diambil. Dalam Histogram, nilai dari peubah berkesinambungan digambarkan pada sumbu horizontal yang dibagi dalam kelas atau sel yang mempunyai ukuran sama. Biasanya ada satu kolom untuk tiap kelas dan tingginya kolom menggambarkan jumlah terjadinya nilai data dalam jarak yang digambarkan oleh kelas. Histogram ini dipakai untuk menentukan masalah dengan melihat bentuk dan sifat dispersi dan nilai rata-rata.
Histogram menggambarkan bentuk distribusi karakteristik mutu yang dihasilkan oleh data yang dikumpulkan melalui check sheet.
5. Diagram Tebar (Scatter Diagram)
Menggambarkan hubungan antara dua data yang dipetakan dalam suatu diagram. Diagram tebar digunakan sebagai alat penguji hubungan antara sebab dan akibat.
Diagram tebar (scatter diagram) menunjukkan hubungan antar-dua perhitungan. Sebagai contoh adalah hubungan yang berbanding lurus di antara lamanya waktu pelayanan jasa yang dipanggil kerumah dengan jumlah perjalanan yang dilakukan teknisi kembali ke truknya untuk mengambil komponen.
Langkah-langkah pembuatan Diagram Tebar
Langkah 1: Kumpulkan data dan masukkan dalam table
Langkah 2: Gambarkan sumbu tegak dan sumbu datar beserta skala dan keterangannya
Langkah 3: Ganbarkan titik-titik koordinat data tersebut
7. Peta control
Peta kontrol adalah tampilan grafis yang sering digunakan dalam
pengendalian proses produksi secara statistik. Peta kontrol memiliki beberapa fungsi diantaranya [Montgomery, 1991,
hal. 108] :
1. Peta kontrol memuat teknik yang mampu mengendalikan/memperbaiki
produktivitas. Suatu peta kontrol yang baik akan mampu mereduksi jumlah sekrap dan rework seminimal mungkin. Jika sekrap dan rework dapat dikurangi maka sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, penurunan ongkos
produksi dan peningkatan volume dan laju produksi.
2. Peta kontrol sangat efektif digunakan dalam pencegahan defects.
Peta kontrol sangat membantu pengendalian proses dan hal ini relevan
dengan prinsip kualitas “do it right the first time”.
3. Peta kontrol mencegah penerapan proses yang tidak andal (unnecessary
process) Suatu peta kontrol dapat membedakan variasi produksi yang tidak normal, ketidaksesuaian dengan spesifikasi dan sebagainya.
4. Peta kontrol menyediakan informasi yang akurat (diagnostic information)
Dalam peta kontrol disediakan informasi penting sebagai bahan analisis
bagi manajemen operasi atau bagi perancang (engineer). Informasi yang
diperoleh tersebut diinterpretasikan dengan baik dan berdasarkan
informasi tersebut dapat diterapkan perubahan atau tidak dalam tahap
implementasi proses sehingga dapat mempengaruhi kriteria performansi.
5. Peta kontrol memuat informasi keandalan proses (process capability)
Peta kontrol menyediakan informasi tentang arti penting parameter proses
dalam aktivitas manufaktur dan menggambarkan kestabilan proses yang
dilakukan.
Jenis Peta Kendali
 Peta Kendali Variabel (Shewart)
Peta kendali untuk data variabel :
 Peta X dan R, Peta X dan S, dll.
 Peta Kendali Attribut
Peta kendali untuk data atribut :
 Peta-P, Peta-C dan peta-U, dll.

Peta Kontrol Untuk Atribut

1. Peta Kendali – p : untuk proporsi cacat
Dan peta kendali np untuk proporsi unit cacatnya relaitif kecil.
2. Peta Kendali – c : untuk cacat (defective)
3. Peta Kendali – u : untuk cacat per unit.

 Peta kendali – p
Perbandingan antara banyaknya cacat dengan semua pengamatan, yaitu setiap produk yang diklasifikasikan sebagai “diterima” atau “ditolak” (yang diperhatikan banyaknya produk cacat).
 Peta Kendali – c

Suatu produk dikatakan cacat (defective) jika produk tersebut tidak memenuhi suatu syarat atau lebih. Setiap kekurangan disebut defec. Setiap produk yang cacat bias saja terdapat lebih dari satu defec. (yang diperhatikan banyaknya defec).
 Peta Kendali – u

Peta kendali u relatif sama dengan peta kendali c. Perbedaanya hanya terdapat pada peta kendali u spesifikasi tempat dan waktu yang dipergunakan idak harus selalu sama, yang membedakan dengan peta kendai c adalah besarnya unit inspeksi perlu diidentifikasikan.