KESELAMATAN DAN KESEHATAN

Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Kemajuan teknologi di bidang industri menimbulkan berbagai dampak baik positif maupun negatif. Hal ini secara langsung dan tidak langsung akan menimpa kehidupan manusia sebagai orang yang ikut bekerja dalam proses produksi di perusahaan dengan berbagai resiko bahaya yang harus dihadapi. Oleh karena itu diperlukan perlindungan terhadap tenaga kerja yang mencakup norma keselamatan kerja, norma kesehatan kerja, norma kerja dan pemberian ganti rugi serta perawatan bagi mereka yang mengalami kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Pelaksanaan perlindungan ini harus memenuhi ketentuan dalam UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.
Selain itu berdasarkan Undang-Undang No 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Pemerintah mendirikan perseroan terbatas yaitu PT JAMSOSTEK. Undang-undang tersebut mengatur jaminan yang berkaitan dengan (i) kecelakaan kerja [JKK], (ii) hari tua [JHT], (iii) kematian [JK], dan (iv) perawatan kesehatan [JPK]. Keikutsertaan wajib dalam Jamsostek berlaku bagi pengusaha yang mempekerjakan 10 karyawan atau lebih, atau membayar upah bulanan sebesar 1 juta rupiah atau lebih. Pekerja yang mengalami kecelakaan kerja berhak atas manfaat/ jaminan yang meliputi (i) biaya transportasi, (ii) biaya pemeriksaan dan perawatan medis, dan atau perawatan di rumah sakit, (iii) biaya rehabilitasi, dan (iv) pembayaran tunai untuk santunan cacat atau santunan kematian, pemeliharaan kebersihan lingkungan, dan pemakaian alat-alat perlindungan diri. Untuk mendukung pelaksanaan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja tersebut perusahaan menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukungnya berupa alat-alat perlindungan diri, alat-alat pemadam kebakaran dan sarana kesehatan yaitu poliklinik, kantin, pertolongan pertama pada kecelakaan, sarana MCK, sarana penerangan. Kewajiban pengusaha berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja mencakup memeriksakan kesehatan tenaga kerja, menyediakan alat perlindungan diri, menyelenggarakan pembinaan tentang pencegahan kebakaran, dan peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja, menempelkan semua syarat keselamatan kerja dan UU No. 1 tahun 1970, memasang semua gambar keselamatan kerja, melaksanakan ketentuan waktu kerja, melaksanakan ketentuan waktu istirahat, memberikan makanan, dan mengatur tempat kerja yang memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kebersihan. Sedangkan kewajiban tenaga kerja berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja mencakup mentaati semua syarat keselamatan kerja yang telah ditetapkan perusahaan, memakai semua alat perlindungan diri yang diwajibkan, menjaga kebersihan tempat kerja serta mentaati peraturan tentang kesehatan kerja yang telah ditetapkan perusahaan.
Dalam proyek konstruksi, khususnya yang kebanyakan menggunakan mesin pemindah bahan sebagai alat berat, sangat perlu menjaga keselamatan dan kesehatan kerja para pekerjanya.oleh karena itu,semua perusahaan kontraktor berkewajiban menyediakan semua keperluan peralatan perlindungan diri seperti :
1. Pakaian Kerja
Tujuannya adalah melindungi badan manusia terhadap pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai badan. Mengingat karakteristk lokasi proyek konstruksi yang pada umumnya mencermnkan kondisi yang keras maka selayaknya pakaian kerja yang digunakan juga tidak sama dengan pakaan yang dkenakan oleh karyawan yang bekerja di kantor. Perusahaan yang betul mengerti masalah ini umumnya menyedakan sebanyak 3 pasang dalam setiap tahunnya.
2. Sepatu Pengaman
Sepatu pengaman harus dapat melindungi tenaga kerja terhadap kecelakaan-kecelakaan yang disebabkan oleh beban-beban berat yang menimpa kaki, paku-paku atau benda tajam lainnya yang mungkin terinjak, logam pijar, asam-asam dan sebagainya.

3. Kaca Mata
Salah satu masalah tersulit dalam pencegahan kecelakaan adalah pencegahan kecelakaan yang menimpa mata. Jumlah kecelakaan demikian besar. Orang-orang yang tidak terbiasa dengan kacamata biasanya tidak memakai perlindungan tersebut dengan alasan mengganggu pelaksanaan pekerjaan dan mengurang kenikmatan kerja, sekalipun kacamata pelindung yang memenuhi persyaratan kian banyak jumlahnya.
Kecelakaan mata berbeda-beda dan aneka jenis kacamata pelindung sangat diperlukan. Misalnya, pekerjaan dengan kemungkinan adanya resiko dari bagian-bagian yang melayang memerlukan kacamata dengan lensa yang kokoh, sedang bagi pengelasan diperlukan kacamata dengan penyaringan sinar las yang tepat.

4. Sarung Tangan
Sarung tangan harus di berikan kepada tenaga kerja dengan pertimbangan akan bahaya-bahaya dan persyaratan yang diperlukan antara lain adalah bebasnya bergerak jari dan tangan. Macamnya tergantung kepada jenis kecelakaan yang akan dicegah yaitu tusukan sayatan, terkena benda panas, terkena bahan kimia, terkena aliran listrik, terkena radiasi dan sebagainya. Salah satu kegiatan yang memerlukan sarung tangan adalah mengengkat besi, ataupun kayu.

5. Topi Pengaman
Topi atau helm pengaman harus dipakai oleh tenaga kerja yang mungkin tertimpa pada kepala oleh benda jatuh atau melayang atau benda-benda lain yang bergerak. Helm harus cukup keras dan kokoh, tetapi tetap ringan.

6. Perlindungan Telinga
Jika perlu, telinga harus dilindungi terhadap percikan api, percikan logam pijar, atau partikel-partikel yang melayang. Perlindungan terhadap kebisingan dilakukan dengan sumbat atau tutup telinga.

7. Perlindungan Paru-paru
Paru-paru harus dilindungi manakala udara tercemar atau manakala ada kemungkinan kekurangan oksigen dalam udara. Pencemar-pencemar mungkin berbentuk gas, uap logam, kabut, debu, dan lain-lainnya. Kekurangan oksigen mungkin terjadi di tempat-tempat yang pengudaraannya buruk seperti tangki atau gudang di bawah tanah.

8. Sabuk pengaman
Fungsi utama tali pengaman adalah menjaga seorang pekerja dari kecelakaan kerja pada saat bekerja khususnya pada kegiatan dengan ketinggian atau kedalaman tertentu. Sabuk pengaman juga biasanya digunakan sebagai tempat menenteng alat-alat penunjang lain dalam bekerja.

9. Safety Vest
Safty vest adalah nama lain untuk rompi keselamatan. Rompi ini diengkapi dengan iluminator, bahan yang dapat berpendar jika terkena cahaya. Bahan berpendar ini akan memudahkan dalam mengenali posisi pekerja ketika berada di kegelapan terowongan. Ini menjadi penting untuk menghindari tertabrak ketika mereka mesti bekerja dengan alat-alat berat.

10. Lampu Kepala
Malam dan siang hari di terowongan tak ada bedanya: sama-sama gelap. Itu sebab, lampu kepala jadi wajib dikenakan. Lampu ini bisa bertenaga aki (elemen basah) atau batere (elemen kering) yang digantung di pinggang. Dibanding batere, aki memiliki beberapa kelemahan. Selain ukuran dan bobot yang lebih berat, cairan asam sulfat yang bocor dapat merusak pakaian.
11. P3K
Apabila terjadi kecelakaan baik yang bersifat ringan ataupun berat pekerja konstruksi sudah seharusnya dilakukan pertolongan pertama di proyek.

K3 Pada Mesin Pemindah Bahan

Aturan Umum tentang keselamatan dan kesehata kerja.
1. Hanya orang yang memilik surat ijin mengoperaskan peralatan (SIM-P) yang boleh mengoperaskan alat berat.
2. Operator dilarang keras memakai obat-obatan terlarang atau minuman beralkohol yang dapat mengurangi kesadaran waktu mengoperasikan alat berat.
3. Operator harus mengetahui kapasitas alat berat yang dioperasikan
4. Pastikan bahwa peralatan keselamatan kerja berada pada posisinya dan dalam kondisi siap pakai.
5. Jangan mengisi bahan bakar dalam keadaan mesin masih hidup
6. Perhatikan daerah yang bermuatan listrk sebelum mengoperasikan alat, pastkan daerahnya aman.

K3 Pada Crane
1. Table kapasitas muat, kecepatan maksimum yang disarankan, peringatan bahaya khusus dan nformasi penting lannya harus dipasang dengan jelas pada semua crane.
2. Operator harus dibantu minimal seorang pemandu yang ditugaskan.
3. Daerah yang berada pada radius putaran semua crane harus diberi penghalang untuk mencegah pekerja terkena muatan berat.
4. Dilarang menaiki kait atau muatan yang sedang diangkat
5. Alat pemadam api yang berukuran sekurang-kurangnya 5 bc harus ditempatkan didalam kabin setiap alat.
6. Pada semua kait dari suatu crane harus dipasang kancing pengaman
7. Setiap line kabel diatas kepala harus dianggap bertenaga/bertegangan (bermuatan listrik)
8. Operator crane harus senantiasa menggunakan penahan sewaktu melakukan operasi pengangkatan.
9. Semua crane mobil harus dilengkapi dengan tangkai penahan dan penyetop otomatis yang harus dijaga agar selalu dalam kondisi yang baik.
10. Jika menggunakan hidrolik crane jagalah agar lengan dalam posisi bawah
11. Ukuran dan kapasitas kekuatan saling harus dipastikan berfungsi dengan benar.
12. Bila mengikat suatu muatan dengan sling atau membantu melakukan pekerjaan ini, tempatkan sling pada tempatnya yang benar dan waktu mulai mengangkat itu dengan menggunakan sling.
13. Jika melepas sling dan kait tunggu sampai muatan diam dan bebas lepas dari sling.
14. Jika bekerja dalam ruangan terbatas atau dalamkeadaan berangin cukup kencang,pakilah tali penarik untuk mengendalikan muatan yang sedang diangkat
15. Sebelum mengangkat muatan, pastikan bahwa tidak ada benda lepas yang terletak pada muatan.

Hal khusus untuk tower crane
1. Lakukan perawatan secara rutin pada brake, rope dan cek dengan teliti kabel-kabel aus
2. Posisi tower crane pada permuakaan dengan level yang datar dan dijaga apabila ada pekerjaan saluran/galian dekat tower crane tidak membahayakan kedudukannya.
3. Pastikan lintasan rel bebas dari kemungkinan /goncangan yang kuat
4. Posisikan dengan benar travelling limit switch dan buffer
5. Cek kekencangan klem rel sebelum operasi.
6. Jangan menarik beban pada posisi miring
7. Dilarang menaikkan beban yang tertanam
8. Matikan sumber listrik
9. Jangan memodifikasi setting alat atau memindahkan alat keselamatan
10. Cek kekuatan section terhadap puntiran dan kekuatan lenganterhadap lengkung

K3 Pada Excavator
1. Kenali area dan kondisi tanah sebelum memulai pengoperasian alat
2. Pastikan sebelum masuk/keluar kabin,posisi kabin searah dengan undercarriage
3. Sebelum dioperasikan periksalah dan pastikan tidak ada orang lain disekitar area, dan beri tanda (klakson) jika ada seorang yang harus menghindar
4. Jika perlu tempatkan pagar pembatas pada area kerja untuk lebih memudahkan.

System K3 Pada Conveyer
Program keselamatan kerja pada conveyer meliputi :
1. Melaksanakan Prosedur Lockout dan Tagout
Lockout; usaha untuk mengisolasi peralatan listrik, mesin, dan alat dengan energy yang tersimpan didalamnya agar tidak menimbulkan kecelakaan pada saat pemasangan, perawatan maupun perbaikan.
Tagout; pemberian tanda pada peralatan listrik, mesin, dan alat lainnya, yang menjelaskan kondisi peralatan apakah dalam keadaan perawatan dan perbaikan atau lainnya.
2. Mengenakan alat pengaman diri yang standar, seperti ; sepatu pengaman, topi pengaman, sumbat telinga, sarung tangan, masker debu, kacamata pengaman, kunci pemisah, dan jepitan pemisah.
3. Melaksanakan Housekeeping
Yaitu kegiatan menjaga kebersihan tempat kerja. Yang termasuk housekeeping ialah :
a. Menjaga tempat kerja selalu bersih dan teratur, menempatkan peralatan pada tempat yang benar, membuang sampah pada tempatnya, dsb.
b. Merawat alat-alat kerja dalam keadaan baik sehingga dapat bekerja secara efektif. Gunakan peralatan yang baik untuk perawatan conveyer
c. Selalu meninggalkan tempat kerja dalam keadaan bersih dan teratur.