Material mungkin mempunyai kekuatan tarik tinggi tetapi tidak tahan dengan beban kejut. Untuk menentukannya perlu diadakan pengujian inpact. Ketahanan impact biasanya diukur dengan metode Charpy atau Izood yang bertakik maupun tidak bertakik. Pada pengujian ini, beban diayun dari ketinggian tertentu untuk memukul benda uji, yang kemudian diukur energi yang diserap oleh perpatahannya.
Impact test merupakan suatu pengujian yang dilakukan untuk menguji ketangguhan suatu specimen bila diberikan beban secara tiba-tiba melalui tumbukan. Ketangguhan adalah ukuran suatu energy yang diperlukan untuk mematahkan atau merusak suatu bahan yang diukur dari luas daerah dibawah kurva tegangan regangan. Suatu bahan mungkin memiliki kekuatan tarik yang tinggi tetapi tidak memenuhi syarat untuk kondisi pembebanan kejut. Suatu paduan memiliki parameter ketangguhan terhadap perpatahan yang didefinisikan sebagai kombinasi tegangan kritis dan panjang retak.
Bentuk takikan yang digunakan pada specimen dalam pengujian tumbukan yaitu :

Tipe-Tipe Perpatahan
Perpatahan transgranular atau juga disebut patah gelah yang umumnya terjadi pada struktur body center cubic yang dibuat pada temperature rendah. Perpatahan Transgranular merupakan perpatahan yang terjadi akibat retakan yang merambat didalam butiran material.
Perpatahan intergranular yaitu perpatahan yang terjadi akibat retakan yang merambat diantara butiran material yang kerap dikatakan sebagai perpatahan khusus. Pada berbagai paduan didapatkan berbagai keseimbangan yang sangat peka antara tegangan yang diperlukan untuk perambatan retak dengan pembelahan dan tegangan yang diperlukan untuk perpatahan rapuh sepanjang batas butir.

Jenis Perpatahan
Perpatahan material dapat dibedakan berdasar kemampuan berdeformasi dan kemampuan menyerap energy, dimana perpatahan material dibedakan menjadi :
1. Patah ulet
Patah ulet yaitu perpatahan yang terjadi yang didahului deformasi plastic dan penyerapan energy.
2. Patah getas
Patah getas yaitu perpatahan yang tanpa didahului dengan deformasi plastic dan sedikit terjadi deformasi mikro dengan penyerapan energi yang hanya sedikit atau dapat dikatakan tidak terjadi penyerapan energy.
3. Perpatahan rapuh
Patah rapuh yaitu perpatahan yang terjadi tanpa didahului dengan deformasi plaslic dan tanpa terjadi penyerapan energy.

Mode-Mode Perpatahan
Selain berdasarkan jenis dan typenya, perpatahan dapat pula diklasifikasikan berdasarkan arah beban yang diberikan terhadap material. Kita dapat menggambarkan arah tersebut sbb :

Jadi berdasarkan gambar diatas, dapat diperoleh 3 mode perpatahan, sbb :
1. Mode I (opening shear)
Merupakan perpatahan akibat pemberian beban yang mengakibatkan tegangan yang arahnya tegak lurus dengan bidang perpatahan dan tegangan tersebut berada pada posisi yang sejajar berlawanan arah pada masing-masing sisi dari bahan. (sb.Y)
Contoh : perpatahan pada shock breaker
2. Mode II (In-Plane Shear)
Pada mode ini tegangan terjadi pada sumbu Z dari bahan artinya melintang terhadap arah perpatahan. Hal ini terjadi karena beban diberikan tidak sejajar dan berlawanan arah pada kedua ujung material, sehingga seakan-akan terjadi sliding.
Contoh : perpatahan pada kopling gesek
3. Mode III (Out-Plane Shear)
Pada mode ini, tegangan terjadi pada sumbu x dari bahan (vertical), dimana tegangan tersebut berada pada arah yang tidak sejaajr dan berlawanan arah pada sumbu x.
Contoh : perpatahan pada roda gigi.

Metode-Metode Pengujian
1. Metode Charpy (USA)
Merupakan cara pengujian dimana specimen dipasang secara horizontal dengan kedua ujungnya berada pada tumpuan, sedangkan takikan pada specimen diletakkan di tengah-tengah dengan arah pembebanan tepat diatas takikan.

2. Metode Izood (Inggris)
Merupakan cara dimana specimen berada pada posisi vertical pada tumpuan dengan salah satu ujungnya dicekam dengan arah takikan pada arah gaya tumbukan. Tumbukan pada specimen dilakukan tidak tepat pada pusat takikan melainkan pada posisi agak diatas dari takikan seperti yang tertera pada gambar sbb :