Setiap karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan nya tidak mungkin selama menyelesaikan pekerjaan itu, tidak ada waktu kelonggaran atau waktu untuk istirahat guna menghilangkan kelelahan dan ketegang-n seiama mereka bekerja. Wakfcu kelonggaran ini per-lu ditentukan oleh pimpinan dalam menentukan waktu standar, sehingga waktu standar tersebut dapat ditentukan secara tepat karena mempertimbangkan waktu ke-longgaran yang diberikan kepada para karyawan dalam melakukan tugasnya, Alasan waktu kelonggaran ini perlu diperhitung kan antara lain :
a. Perhitungan kelonggaran kecil perlu ditentukan untuk hal-hal yang tak terduga selama kerja, dan diperuntukkan bagi hal-hal yang hanya kadang-kadang terjadi, misalnya waktu untuk mengumpulkan alat dan mengumpulkan bahan yang tidak sering terjadi, sehingga waktunya tidak dapat ditentukan dengan tepat.
b. Perhitungan waktu istirahat bagi orang yang melaksanakan kerja, perlu juga diperhitungkan karena setiap orang yang bekerja terus menerus perlu adanya istirahat utuk menghilangkan rasa lelah, jenuh, minum dll.
c. Tambahan kelonggaran waktu tak terduga untuk penundaan jika perlu.
d. Kelonggaran waktu.untuk menganggur (yang tak terpakai) atau gangguan, misalnya pada waktu pekerja harus menunggu selama mesin melaksanakan pekerjaan yang diberikan olehnya, atau selama ia harus menunggu sementara pekerja lainnya melaksanakan sebagian dari operasi.
Kelonggaran untuk hal-hal yang terduga adalah kelonggaran untuk waktu tak seberapa yang dapat dimasukkan dalam waktu standar untuk dapat menampung hal-hal yang dapat dibenarkan dan diharapkan mengenai pekerjaan atau penundaan, yang perhitungannya cara tepat adalah tidak ekonomis karena timbulnya tak teratur dan jarang.
Kelonggaran untuk hal-hal tak terduga ini perlu ditentukan walaupun waktu itu jarang terjadi dan waktu itu hanya kecil, Besarnya kelonggaran untuk waktu ini biasanya ditentukan dalam prosentase dari waktu normal. Untuk menentukannya yaitu dengan cara mengamati mulai pekerja melakukan kegiatan sampai ia selesai atau dapat ditentukan berdasarkan pengalaman pimpinan selama dia mengawasi para pekerja tersebut.
Dengan pengalaman tersebut dapat ditentukan berapa besar waktu kelonggaran untuk hal-hal yang tak terduga tersebut dibutuhkan. Kelonggaran ini sama sekali tidak boleh digunakan sebagai faktor keringanan atau untuk menghindari pelaksanaan praktek penelitian waktu yang wajar.
Kelonggaran untuk melepaskan lelah, merupakan tambahan pada waktu dasar dengan maksud memberikan kesempatan pada pekerja untuk memulihkan dirl dari keletihan fisik dan psikologis karena melakukan pekerjaan tertentu dalam keadaan tertentu dan untuk dapat memperhatikan kebutuhan pribadinya. Besarnya kelonggaran tergantung dari sifat pekerja.
Dalam buku penelitian kerja dan pengukuran kerja keluaran International Labour Office, disebutkan kelonggaran untuk melepaskan leleh terdiri atas dua bagian yaitu:
1). Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi ialah agar dapat meninggalkan tempat kerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi, seperti mencuci muka, ke kamar kecil dan untuk minum. Wanita memerlukan kelonggaran kebutuhan pribadi lebih banyak dari pria. Kelonggaran itu dinyatakan sebagai prosentase tetap umumnya sebanyak 5 untuk pria, 7 untuk wanita.
2). Kelonggaran kelebihan senantiasa mengandung suatu kelonggaran dasar tetap dan dapat selebihnya mengandung suatu bagian berubah-ubah yang besar tergantung dari beratnya unsur itu meletihkan seperti yang diperhatikan sebelumnya.

Kelonggaran waktu (allowance time). .Merupakan sejumlah waktu yang harus ditambahkan dalam waktu normal (normal time) untuk mengantisipasi terhadap kebutuhan-kebutuhan waktu guna melepaskan lelah (fatique), kebutuhan-kebutuhan yang bersifat pribadi (personal needs) dan kondisi-kondisi menunggu/menganggur baik yang bisa dihindarkan ataupun tidak bisa dihindarkan (avoidable or unavoidable delays).

Kelonggaran untuk kebutuhan pribadi
Yang termasuk ke dalam kebutuhan pribadi disini adalah hal-hal seperti minum sekadarnya untuk menghilangkan rasa haus, ke kamar kecil, bercakap-cakap dengan teman sekerja sekedar untuk menghilangkan ketegangan ataupun kejenuhan dalam kerja. Besarnya kelonggaran yang diberikan untuk kebutuhan pribadi seperti itu berbeda-beda dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya karena setiap pekerjaan mempunyai karakteristik sendiri-sendiri dengan tuntutan yang berbeda-beda. Penelitian yang khusus perlu dilakukan untuk menentukan besarnya kelonggaran ini secara tepat seperti dengan sampling pekerjaan ataupun secara fisiologis. Berdasarkan penelitian ternyata besarnya kelonggaran ini bagi
pekerja pria berbeda dari pekerja wanita, misalnya unutk pekerjaan-pekerjaan ringan ada kondisi-kondisi kerja normal pria memerlukan 2-2,5 % dan wanita 5 %. Persentase ini adalah dari waktu normal (Sutalaksana, 2002).

Kelonggaran untuk hambatan-hambatan tak terhindarkan.
Dalam melaksanakan pekerjaan, pekerja tidak akan lepas dari berbagai hambatan. Ada hambatan yang dapat dihindarkan seperti berbicara dengan berlebihan dan menganggur dengan sengaja dan ada pula hambatan yang tidak dapat dihindarkan karena berada di luar kekuasaan pekerja untuk mengendalikannya. Beberapa contoh hambatan yang termasuk kedalam hambatan yang tidak terhindarkan misalnya menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas, menerima atau meminta petunjuk kepada pengawas, Mengambil alat-alat khusus atau bahan-bahan khusus digudang dan sebagainya

Kelonggaran untuk menghilangkan rasa lelah (fatique)
Rasa lelah tercermin antara lain dari menurunnya hasil produksi baik jumlah maupun kualitas. Jika rasa lelah (fatique) telah datang dan pekerja harus bekerja untuk menghasilkan performance normalnya, maka usaha yang dikeluarkan pekerja lebih besar dari normal dan ini akan menambah rasa lelah sehingga rasa lelah ini hal yang akan terjadi pada diri seseorang sebagai akibat melakukan pekerjaan. Oleh sebab itu, kelonggaran untuk melepaskan rasa lelah ini perlu ditambahkan untuk pekerja.

Dalam menetukan waktu standard untuk suatu pekerjaan (misalnya dengan stop watch time study), allowance ditambahkan kepada “basic time”. Allowance ini terbagi kedalam Personal and Delay, Fatigue dan other. Fatigue allowance sukar ditentukan karena fatigue itu sendiri belum dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat dihitung dan diukur. Berhubung dengan hal itu dikemukakanlah suatu cara sistimatis untuk menentukannya. Cara ini telah dilaksanakan penyusunanya disuatu pabrik tekstil. Fakto-faktor yang mempengaruhi timbulnya fatigue adalah kondisi (temperature, air supply, humidity, noise level, light) Pengulangan (duration of job repeat of cycle), Usaha (physical demand, mental or visual demand) dan kedudukan (standing, moving, sitting, height of work) bekerja. Tiap faktor tersebut dibagi kedalam 4 tingkatan (levels), dan untuk setiap tingkatan “diassigned” suatu range points. Fatigue allowance untuk suatu pekerjaan ditentukan berdasarkan jumlah points yang diperoleh berdasarkan data hasil pengukuran, pengamatan dan perhitungan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulanya fatigue untuk pekerjaan tersebut. Sebelas kelompok kerja di Patal Banjaran (Scutcher Tenter, Operator Feeder/mixer, Tenter Carding, Tenter Drawing, Tenter Speedder, Tenter Ring Spinning, Deffer Ring Spinning, Tenter Cone Winder, Tenter Double Winder, Tenter Twisting, Doffer Twisting) dipilih untuk menentukan fatigue allowance-nya dengan cara sistimatis. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan waktu istirahat yang berlaku di pabrik. Ternyata fatigue allowance lebih besar daripada waktu istirahat yang tersedia untuk setiap kelompok kerja. Hal ini merupakan bahan yang harus diselidiki lebih lanjut, yaitu apakah perbedaan itu masih dalam batas-batas fatigue allowance atau sesungguhnya perbedaan tersebut terserap pada saat keryawan melakukan pekerjaannya.

Waktu Normal = Total waktu x performans rating (%)
Waktu Standard = Waktu normal + % allowances x waktu normal